Realitas Sosial: Pengertian, Teori, Bentuk, dan Contohnya

Sobat Sikmaritim, realitas sosial adalah sebuah konsep yang sering kita dengar, namun mungkin belum sepenuhnya kita pahami. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai realitas sosial, mulai dari pengertiannya, teori-teori yang mendukung, bentuk-bentuknya, hingga contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan inti, mari kita pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan realitas sosial. Realitas sosial adalah fakta atau kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan berkaitan dengan kestabilan dalam keadaan normal maupun tidak normal yang terjadi pada pola-pola hubungan di masyarakat.

Pengertian Realitas Sosial

Realitas sosial merupakan sebuah fenomena yang ada dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah sesuatu yang kita anggap sebagai “nyata” karena diakui oleh mayoritas anggota masyarakat. Namun, apa yang kita anggap sebagai realitas mungkin berbeda dengan apa yang dianggap oleh orang lain. Ini karena realitas sosial bersifat subjektif dan tergantung pada persepsi masing-masing individu.

Sebagai contoh, dalam masyarakat tertentu, mungkin dianggap normal bagi wanita untuk tidak bekerja dan fokus pada mengurus rumah tangga. Namun, dalam masyarakat lain, hal ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Kedua pandangan ini adalah realitas sosial yang berbeda, yang masing-masing valid dalam konteks masyarakatnya.

Teori Realitas Sosial

Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan konsep realitas sosial. Salah satunya adalah teori konstruksi sosial, yang menyatakan bahwa realitas sosial dibentuk melalui interaksi sosial antar individu. Dalam teori ini, realitas tidak bersifat objektif, melainkan dibentuk melalui persepsi, kepercayaan, dan interaksi antar manusia.

Baca juga:   Pengertian dan Contoh Integrasi Normatif Di Masyarakat

Teori lainnya adalah teori strukturalisme, yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang dibentuk oleh struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat, seperti norma, nilai, dan institusi. Menurut teori ini, individu memiliki sedikit kebebasan dalam membentuk realitas sosial mereka sendiri, karena mereka terikat oleh struktur-struktur yang ada.

Bentuk Realitas Sosial

Realitas sosial dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada konteks masyarakat dan budaya tempat individu tersebut berada. Beberapa bentuk realitas sosial antara lain realitas sosial objektif, realitas sosial simbolik, dan realitas sosial subjektif. Semua bentuk realitas sosial ini saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain, membentuk sebuah web kompleks dari hubungan sosial.

1. Realitas Sosial Objektif

Realitas sosial objektif merujuk pada fakta-fakta dan situasi yang ada di masyarakat yang dapat diamati dan diukur. Ini adalah realitas yang tidak tergantung pada persepsi atau interpretasi individu. Contohnya adalah institusi-institusi sosial, seperti pendidikan, ekonomi, dan politik. Meskipun individu mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana institusi-institusi ini harus berfungsi, keberadaan mereka sebagai bagian dari struktur masyarakat adalah objektif.

Realitas objektif seringkali dianggap sebagai “fakta” dalam masyarakat. Misalnya, hukum yang berlaku, struktur pemerintahan, atau data statistik tentang penduduk. Semua ini adalah contoh dari realitas sosial objektif yang ada, terlepas dari bagaimana individu memandang atau menginterpretasikannya.

2. Realitas Sosial Simbolik

Realitas sosial simbolik berkaitan dengan makna dan simbol yang diberikan oleh masyarakat terhadap objek, peristiwa, atau situasi tertentu. Ini adalah realitas yang dibentuk melalui interaksi sosial dan komunikasi antar individu. Simbol-simbol ini membantu anggota masyarakat untuk memahami dunia di sekitar mereka dan memberikan makna pada pengalaman mereka.

Baca juga:   11 Macam-Macam Realitas Sosial Beserta Penjelasannya Lengkap

Sebagai contoh, bendera suatu negara adalah simbol dari identitas nasional dan kebanggaan. Meskipun pada dasarnya hanya selembar kain dengan pola tertentu, bendera tersebut membawa makna yang mendalam bagi penduduk negara tersebut karena interpretasi simbolik yang diberikan oleh masyarakat.

3. Realitas Sosial Subjektif

Realitas sosial subjektif adalah realitas yang terbentuk dari persepsi, keyakinan, dan pengalaman pribadi individu. Ini adalah realitas yang bersifat pribadi dan mungkin berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Meskipun realitas ini bersifat pribadi, ia seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya yang lebih luas.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki keyakinan atau nilai tertentu berdasarkan pengalaman pribadinya, tetapi keyakinan atau nilai tersebut juga dipengaruhi oleh norma-norma sosial, tradisi, dan budaya di masyarakat tempat ia tinggal. Realitas subjektif ini seringkali menjadi dasar bagi tindakan dan keputusan individu dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Realitas Sosial

Realitas sosial hadir dalam berbagai bentuk dan manifestasi, tergantung pada konteks masyarakat dan budaya tempat individu tersebut berada. Berikut adalah beberapa contoh realitas sosial yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

1. Contoh Realitas Sosial di Individu

Realitas sosial pada tingkat individu berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya berdasarkan pengalaman pribadi dan interaksi sosialnya. Sebagai contoh, seseorang yang tumbuh besar di lingkungan yang mendukung mungkin memiliki pandangan positif tentang dirinya dan percaya bahwa dia mampu menghadapi tantangan apa pun. Ini adalah realitas sosial pribadi yang dibentuk oleh pengalaman dan interaksi individu tersebut.

Sebaliknya, seseorang yang sering mengalami penolakan atau diskriminasi mungkin memiliki pandangan negatif tentang dirinya dan merasa tidak berharga. Realitas sosial ini mungkin mempengaruhi kepercayaan diri, motivasi, dan tindakan individu dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:   5 Contoh Integrasi Fungsional: Pengertian dan Manfaatnya

2. Contoh Realitas Sosial di Kelompok

Realitas sosial pada tingkat kelompok berkaitan dengan norma, nilai, dan kepercayaan yang dianut oleh anggota kelompok tertentu. Sebagai contoh, dalam kelompok teman sebaya, mungkin ada norma tertentu tentang bagaimana seseorang harus berpakaian, berbicara, atau bersikap. Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma ini mungkin akan dilihat sebagai “berbeda” atau “aneh” oleh anggota kelompok lainnya.

Realitas sosial ini mempengaruhi dinamika kelompok dan interaksi antar anggota. Dalam beberapa kasus, tekanan untuk mematuhi norma kelompok dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan individu, bahkan jika itu bertentangan dengan keyakinan atau nilai pribadi mereka.

3. Contoh Realitas Sosial di Masyarakat

Realitas sosial pada tingkat masyarakat mencerminkan norma, nilai, dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat secara keseluruhan. Sebagai contoh, di banyak masyarakat, ada norma sosial tentang peran gender, di mana laki-laki diharapkan untuk menjadi pencari nafkah, sementara perempuan diharapkan untuk mengurus rumah tangga. Meskipun norma ini mulai berubah di banyak tempat, mereka masih mempengaruhi ekspektasi dan perilaku individu dalam masyarakat tersebut.

Realitas sosial ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, dari pendidikan dan pekerjaan hingga hubungan dan dinamika keluarga. Mereka membentuk cara masyarakat memandang dunia dan menentukan apa yang dianggap “normal” atau “tidak normal” dalam konteks budaya dan sosial tertentu.

Kesimpulan

Realitas sosial adalah konsep yang kompleks dan multifaset. Ini adalah sesuatu yang dibentuk melalui interaksi sosial dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti budaya, sejarah, dan struktur sosial. Meskipun realitas sosial mungkin berbeda di antara masyarakat yang berbeda, penting bagi kita untuk memahami dan menghargai perbedaan tersebut.

Sobat Sikmaritim, setelah memahami konsep realitas sosial, mari kita mulai melihat dunia dengan perspektif yang lebih terbuka dan menghargai keanekaragaman yang ada. Ingatlah bahwa apa yang kita anggap sebagai “nyata” mungkin berbeda dengan apa yang dianggap oleh orang lain. Mari kita hargai perbedaan dan belajar dari satu sama lain.

Tinggalkan komentar